Rabu, 04 Juli 2007

Sedikit Tentang Carbal Tunel Syndrom (CTS)

Arranged by: Fariz Muhammad

Kesemutan kerap diabaikan. Padahal, bisa jadi itu gejala awal carpal tunnel syndrome (CTS). Dan ternyata, kebanyakan penderitanya perempuan. Coba ingat-ingat, seringkah Anda merasa kesemutan di salah satu tangan atau jemari Anda? Atau rasa- baal (mati rasa) serta ngilu di bagian pergelangan? Jika jawabannya "sering", Anda perlu waspada. Jangan-jangan, Anda mengidap carpal tunnel syndrome (CTS).

Sekilas, namanya memang terasa "berat," padahal sebetulnya ini adalah nama lain sindroma terowongan karpal, yang tak lain adalah rasa nyeri di pergelangan, tangan, dan pundak, akibat adanya tekanan pada saraf medianus dalam terowongan karpal (letaknya di pergelangan tangan).

CTS akan terjadi jika saraf medianus terjepit di terowongan karpal. Efek yang biasa dirasakan penderita adalah rasa nyeri pada jemari, kesemutan, rasa baal (mati rasa) pada telapak tangan dan jemari. "Kadang-kadang ada rasa panas (burning sensation), dan otot-otot di sekitarnya mengecil," ujar DR. dr. A. Bambang Darwono, Sp.B, Sp.OT.

Biasanya, awalnya penderita CTS akan mengalami sulit tidur, karena terganggu rasa nyeri pada tangan atau pergelangan. "Bisa juga rasa nyeri akan timbul ketika si penderita berada di ruang berpendingin udara." Rasa ngilu dan nyeri ini bisa segera dihilangkan dengan cara menggerak-gerakkan tangan, supaya aliran darah di pembuluh darah disekitar terowongan kembali normal.Namun, jika dibiarkan berlarut-larut, kerusakan saraf akan semakin parah. Malah ujung-ujungnya, tangan kita tidak lagi bisa berfungsi normal.

KEBANYAKAN PEREMPUAN

Yang mengejutkan, perempuan ternyata lebih mudah terkena CTS. "Risiko perempuan terkena CTS lima kali lebih besar dibandingkan pria. Umumnya terjadi pada usia 30 - 60 tahun, Jumlah penderitanya cenderung meningkat dari tahun ke tahun, dan usianya cenderung semakin muda." Salah satu penelitian di Amerika menyebutkan, saat ini CTS mengincar penderita usia 25-34 tahun.

CTS mengincar orang yang banyak melakukan pekerjaan dengan tangan. "CTS banyak sekali diderita oleh mereka yang jenis pekerjaannya menuntut jari dan pergelangan tangan bergerak secara ritmis dan terus menerus. Misalnya mengetik atau data entry. Bahkan, para ibu yang sering merajut juga berisiko tinggi terkena CTS," imbuh Bambang. Pekerjaan rumah tangga juga banyak yang berisiko tinggi menyebabkan CTS. Misalnya saja menyapu dan mengulek bumbu.

Menurut Kepala Departemen Rehabilitasi Medik RS Gatot Soebroto ini, gerakan-gerakan yang dilakukan terus menerus dalam jangka waktu lama tersebut menyebabkan stres pada jaringan di sekitar terowongan karpal, sehingga jaringan tersebut mengalami degenerasi, dan menyebabkan saluran terowongan menjadi sempit. Selain disebabkan jenis pekerjaan tertentu, CTS juga bisa diakibatkan oleh penyakit lain. Misalnya diabetes dan kelainan tyroid. "Umumnya, pasien yang menderita CTS gara-gara penyakit lain seperti ini, pengobatan akan difokuskan ke penyakit yang mendasarinya terlebih dahulu, baru CTS-nya. Jika setelah diobati tetap gagal, barulah dilakukan operasi," tutur Bambang.

CTS juga kerap diderita oleh ibu hamil. "Karena perubahan hormonal, cairan tubuh lebih banyak, dan menyebabkan bengkak. Ini bisa pula menyebabkan CTS." Namun, para ibu tak perlu khawatir, karena CTS yang terjadi selama kehamilan biasanya langsung hilang seiring dengan lahirnya bayi.

Pencegahan CTS sendiri dapat dilakukan melalui upaya-upaya mengadakan istirahat pendek secara teratur sepanjang hari (dianjurkan untuk mengubah sikap kerja secara berkala dengan melakukan pekerjaan lain atau Lakukan relaksasi sejenak), agar otot dan sendi beristirahat dan dapat pulih kembali. Jangan lupa untuk selalu melakukan pekerjaan dalam posisi tubuh yang benar termasuk posisi pergelangan tangan. Ingat! Istirahat jangka pendek selama beberapa menit tiap jam jauh lebih balk dan pada istirahat lama dalam jangka panjang.


Tidak ada komentar: