Rabu, 04 Juli 2007

Sekolah Unggulan, Benarkah Unggul ?

Constructed By: Fariz Muhammad


Kualitas pendidikan kita sampai sekarang masih memprihatinkan, dunia pendidikan sedang menghadapi krisis berat. Kondisi itu terlihat dari hasil ujian akhir nasional tahun 2004-2005 yang mengejutkan banyak orang. Puluhan ribu murid tingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia tidak lulus ujian. Di Yogyakarta yang disebut sebagai kota pelajar, ada 13 SMA yang persentase kelulusan muridnya nol persen. Bahkan di NTT, Papua, Bengkulu, Sulteng, Kalteng dan NAD, angka ketidaklulusan siswa SMP peserta UAN 2005, sekitar 50 %. Sungguh ironis sekali. Rendahnya kualitas pendidikan itu selain dapat dilihat dari hasil ujian nasional, bisa dilihat juga dari kemampuan membaca untuk tingkat SD dan matematika bagi siswa SLTP. Untuk membaca, Indonesia termasuk urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sedang matematika kita masuk urutan ke-39 dari 42 negara. Untuk studi IPA, kita masuk urutan ke-40 dari 42 negara peserta. Namun di luar rasa duka itu, kita sedikit terhibur, karena beberapa siswa SMA meraih medali emas dalam Olimpiade Fisika di Spanyol, Juni 2005.

Untuk mengatasi fenomena tersebut, banyak lembaga lembaga pendidikan baik milik pemerintah maupun swasta mendirikan sekolah yang dibelakangnya diberikan embel-embel sekolah unggulan. Bak jamur di musim hujan, sekolah-sekolah unggulan ini tumbuh banyak sekali. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, Apakah benar sekolah itu bisa dikategorikan sebagai sekolah unggulan?. Bila dicermati lebih dalam tidak semua sekolah unggulan berdampak baik pada peserta didik. Masih banyak sekolah unggulan yang hanya memperhatikan kemampuan intelegensi dan mengejar target agar pelajar dapat menembus perguruan tinggi favorit. Artinya sekolah unggulan ini yang dikejar hanya target intelektual, sedangkan sisi emosional dan kepribadian pelajar kurang tersentuh. Akibatnya, sikap perilaku anak akan berbeda jika dibandingkan dengan teman sebayanya.. Di negara maju seperti di Amerika Serikat, untuk menunjukkan sekolah yang bermutu, tidak digunakan istilah unggulan (excellent) melainkan effective, develop, accelerate, dan essential. Dari sisi ukuran muatan unggulan, sekolah unggulan di Indonesia banyak yang tidak memenuhi persyaratan. Karena sekolah unggulan hanya diukur dari kemampuan akademis anak didik semata. Dalam konsep yang benar, sekolah unggulan dapat dimaknai sebagai sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kualitas kepandaian dan kreativitas anak didik sekaligus menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk mendorong prestasi anak didik secara optimal. Dengan demikian, bukan hanya prestasi akademis yang ditonjolkan, melainkan sekaligus potensi psikis, etik, moral, religi, emosi, spirit, kre-ativitas, dan intelegensianya.

Apabila sekolah-sekolah unggulan itu hanya mengedepankan kecerdasan intelektual saja tanpa dibarengi oleh kecerdasan moral, maka akhirnya kita akan mempunyai generasi-generasi yang cerdas tetapi tidak punya moral. Dampaknya Indonesia akan mempunyai koruptor yang cerdas, penjahat-penjahat yang cerdas, hakim maupun jaksa yang pandai menutupi kebenaran. Sebagai contoh lain, mahasiswa yang IP (indeks prestasi)-nya tinggi-tinggi, notabene tidak pernah ikut demo untuk reformasi, mereka apatis dengan penderitaan rakyat sekitarnya. Mahasiswa Fakultas Kedokteran yang cerdas tidak memiliki sensivitas sama sekali terhadap mewabahnya virus HIV/AIDS atau epidemi DBD, flu burung dan lain sebagainya. Mereka hanya tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri dan tak mau tahu apa yang terjadi pada orang lain.

Anehnya sekolah-sekolah unggulan ini makin digemari oleh para orang tua murid. Orang tua merasa bangga apabila tahu kalau anaknya yang baru kelas 3 SD pandai berbahasa Inggris dan pandai mengoperasikan komputer. Bayangkan saja untuk anak kelas 3 SD, pelajaran bahasanya saja ada 4 macam, Bahasa Idonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Daerah dan Bahasa Arab (bagi sekolah Islam) belum lagi dengan pelajaran yang lain. Berdasarkan fakta ini, kemampuan anak terlalu dipaksakan karena pada usia ini seorang anak harusnya punya waktu untuk bermain dengan teman sebayanya dengan harapan seorang anak akan pandai untuk bersosialisasi dengan lingkungannya dan mengembangkan kemampuan psikomotornya.

Berdasararkan fakta yang ada, sekolah unggulan memiliki berbagai kelemahan. Pertama, biaya masuk kesekolah unggulan mahal sekali, dikota-kota besar ada SD yang mengutip uang pangkal sampai Rp 10 juta dan SPP mencapai Rp 750,000/bulan, hal ini juga diikuti oleh jenjang sekolah yang lebih tinggi. Ini membuktikan bahwa hanya ada sekelompok kecil masyarakat yang mampu membayar beban pendidikan yang tinggi untuk anaknya. Ironisnya diluar sana masih banyak sekolah-sekolah yang hampir bangunannya hampir roboh, dengan siswa yang tak berseragam dan bersepatu. Bahkan tidak jarang kita menemui anak yang putus sekolah lantaran orang tuanya tidak mampu membiayai uang sekolahnya. Dengan kondisi yang seperti itu, wajar apabila seorang siswa dari golongan mampu dengan mudah melampaui seleksi di sekolah-sekolah negeri unggulan mulai dari SMP sampai perguruan tinggi, sedangkan golongan yang tidak mampu meskipun punya prestasi yang bagus tidak bisa memasuki sekolah itu. Kedua, adanya pemaksaan materi dalam sekolah unggulan tertentu akan membuat stress. Pernah dilakukan penelitian di sebuah sekolah dasar unggulan di Yogyakarta. Hasilnya, sebanyak 80 persen pelajar mengalami stres yang terbawa ketika mereka duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat pertama. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 persen masih mengalami stres di sekolah lanjutan tingkat atas. Stress tersebut dipicu gara-gara adanya pemaksaan materi disekolah, karena seorang siswa dituntut untuk mempunyai prestasi yang bagus di bidang akademis. Ketiga, seorang anak akan kehilangan kepribadian dan tidak merespon persoalan-persoalan disekitarnya (anti sosial). Hal ini disebabkan karena sekolah unggulan lebih menekankan pada bidang akademik, sedangkan potensi psikis, etik, moral, religi, emosi, spirit, kre-ativitas, dan intelegensianya kurang diasah. Keempat, tidak adanya pemerataan pendidikan (diskriminasi) sehingga hal ini akan menimbulkan kecemburuan sosial, akibatnya jarak antara simiskin (the have not) dan sikaya (the have) akan semakin lebar.

Dari berbagai macam persoalan diatas, format sekolah unggulan harus di rekontruksi. Pertama,seharusnya program sekolah unggulan tidak perlu diskriminatif terhadap anak didik. Sekolah harus dibuat heterogen, sehingga anak berbakat bisa bersosialisasi dengan siswa kurang berbakat. Anak yang kaya bisa bergaul dengan anak yang berlatarbelakang miskin. Jadi selain sebagai tempat untuk menimba ilmu, sekolah juga sebagai tempat bertemunya berbagai macam lapisan sosial dalam masyarakat. Dasar pemilihan keunggulan tidak hanya didasarkan pada kemampuan intelegensi dalam arti sempit, seperti tes IQ. Melainkan keunggulan seseorang dapat dijaring melalui kreativitas anak didik. Kedua, Sekolah unggulan jangan hanya menjaring anak orang kaya, tapi semua kalangan. Kasus yang sekarang muncul, seringkali anak pandai jadi bodoh, karena miskin. Sekolah unggulan di Amerika sangat membela orang miskin, seperti Effectif School yang dikembangkan Ronald Edmonds di Harvard University, School Development Program yang dikembangkan James Comer, Accellerated School yang diciptakan Henry Levin, Standford University dan Essential School yang dikembangkan Theodore Sizer dari Brown University. Semuanya menyediakan tempat bagi siswa berbakat, tapi miskin. Ketiga, sekolah unggulan tidak harus terlalu terkonsentrasi untuk mengejar target akademik siswa, sebab hal ini akan menyebabkan pemaksaan materi pada siswa yang ujung-ujungnya bakat atau kemampuan siswa yang lain tidak tergali, bisa juga hal ini akan menyebabkan stress pada siswa seperti yang terjadi di Yogyakarta.

Di masa kedepan sekolah unggulan harus mempunyai manajemen yang lebih modern. Sekolah harus menjadi tempat belajar yang kondusif, proses pendidikan disekolah harus diformat agar mampu membuat anak didik belajar dengan nyaman, gembira, mampu mengembangkan kreatifitas mereka secara optimal dan mampu untuk mengajari anak didik hidup secara baik dan benar sehingga tujuan utama pendidikan yaitu memanusiakan manusia bisa diraih. Sekolah yang berhak menyandang gelar sekolah unggulan adalah sekolah-sekolah yang berhasil menigkatkan kemampuan siswa secara merata, baik dari aspek intelektual, spiritual, emosional, sosial maupun jasmani. Orang tua siswa harus selektif dalam memilihkan sekolah bagi anaknya, pilihkan sekolah yang sesuai dengan bakat, minat dan prestasi anak. Pemaksaan terhadap potensi anak justru akan membuat anak stres, sehingga sekolah akan menjadi tempat yang paling menakutkan bagi anak. Sekolah yang mahal bukanlah jaminan akan mampu mencetak anak didik yang berkualitas secara keseluruhan.

Tidak ada komentar: